30 Jan 2011

Karyawan “Happy” adalah Harta



Disadur dari : Great Places to Work Institute Inc, of the USA
Adalah hal yang lumrah apabila setiap orang memiliki mimpi untuk mempunyai kesempatan bergabung di dalam sebuah organisasi dimana ia dapat belajar, bertumbuh dan bergerak dalam jenjang karirnya menuju ke arah yang lebih baik menuju sukses.
Tidak jarang bagi kita untuk mendengar dan melihat di sebuah perusahaan begitu loyal karyawannya sehingga ada  yang bekerja sudah mencapai lebih dari 5 tahun bahkan sampai belasan tahun bahkan ada yang dari mudanya sampai mereka pensiun bekerja di tempat yang sama.
Apakah gerangan yang menjadi penyebab begitu loyal dan betahnya mereka bekerja di tempat tersebut sehingga ada yang berkata bahwa mereka menyukai pekerjaan mereka dan mereka menyukai tempat dimana mereka bekerja.
Mungkin apabila ditelusuri lebih jauh, tidak selalu mereka dibayarkan dengan gaji yang luar biasa besar melebihi yang ada di market; bisa jadi biasa saja/sewajarnya saja.  Namun adakah yang lebih lagi yang mereka rasakan sehingga mereka terlihat “happy” bekerja di tempat tersebut.
Ada beberapa hal yang dapat menjadi alasan dan pertimbangan mengapa mereka “happy” berada disana, diantaranya:
·         Ide dan opini mereka diperhitungkan
·         Ada kepercayaan diantara karyawan yang bekerja
·         Management mau mendengarkan mereka dan melibatkan karyawan dalam membuat keputusan
·         Mereka saling berbagi dalam laporan kerja yang baik dengan management
·         Mereka menyediakan secara rutin feedback yang berkaitan dengan pekerjaan dan performance anda
·         Menghargai untuk prestasi kerja yang baik dan kesempatan untuk menjadi lebih baik
·         Mereka hadir dalam sesi training rutin untuk membawa mereka tetap up date dalam informasi terkini berkaitan dengan perkembangan pekerjaan yang mereka kuasai
·         Semua pegawai diperlakukan sama seperti pemberian bonus, kenaikan salary diberikan sesuai dengan prestasi kerja mereka
·         Bos mereka percaya pada kinerja dan kemampuan mereka. Mereka diberi kesempatan untuk membuat dan mengambil keputusan serta mencoba hal yang berbeda
·         Lingkungan kerja yang kondusif juga menjadi faktor penentu sehingga tidak ada pergesekan yang tajam dan dapat menjatuhkan rekan sekerjanya, semua merasakan kebersamaan dan bekerja baik dalam team.

Akhirnya dapat dipahami bahwa Karyawan yang produktif dan happy dapat meningkatkan profit bagi perusahaan.

Bagaimana Mencari Prospek


Oleh : Jimmy Andreas

Seorang yang bekerja sebagai marketing dalam suatu perusahaan dituntut untuk menciptakan “deal”  dalam bisnis, sebelum hal itu terjadi maka ada beberapa langkah dalam alur prospeknya, yaitu sebagai berikut :

                               
Prospek => hot prospek  =>  deal/closing

Sebelum sampai ke hot prospek dan deal, maka kita harus mencari prospek yang sabanyak-banyaknya, dan kadang kala banyak marketing yang lemah mencari  prospek, maka timbul pertayaan bagaimana mencari prospek.

Sebenarnya mencari prospek tidaklah sesulit yang dipikirkan , yang perlu diperhatikan adalah langkah-langkah sebagai berikut:

1. Promosikan produk yang hendak dijual kepada orang yang tinggal satu rumah dengan kita, contoh bisa kepada orang tua, kakak atau adik kita
2. Promosikan produk yang hendak dijual kepada saudara kita, contoh saudara dari bapak/ibu; biasanya dari sisi ini akan banyak deal yang terjadi
3. Promosikan kepada teman kita, contohnya teman disini, mungkin kita punya teman kuliah, atau temen sekolah, disini juga banyak bisnis yang dapat kita jalankan
4. Promosikan kepada tetanggal kita, contohnya tetangga ini, dimana kita tinggal

Kalau kita mencoba hitung, setiap hari saja kita mendapat 5 nama prospek dari 4 item diatas maka kita mendapat 20 nama prospek , kalau dikalikan 30 hari maka kita akan mendapat 600 nama prospek, ini belum dengan kita melakukan canvassing sendiri, jadi mencari prospek sebenarnya tidaklah sulit, tetapi yang diperlukan dari kita adalah  kerja keras dan maju terus.

28 Jan 2011

Strategi Pemasaran Fashion Business di Tahun 2011


Oleh: Elvaretta Nathania

Fashion business merupakan bisnis yang tidak akan pernah mati, karena namanya gaya berbusana merupakan kebutuhan bagi setiap wanita pada umumnya. Setiap wanita pasti mencari gaya berbusana yang pas dengan dirinya, dan hal tersebut merupakan hal yang terus-menerus. Karena itulah, fashion business merupakan bisnis yang bisa dikatakan bisa eksis di dalam keadaan apapun.
Persaingan di dunia fashion memang bisa dikatakan cukup tinggi. Bahkan terkadang tidak sedikit brand yang menjual produk yang hampir mirip satu dengan lainnya. Namun, jika brand kita ingin terus diminati orang, kita memang harus memiliki strategi tersendiri. Mungkin kita berpikir, produk yang saya hasilkan bukan dari perusahaan besar seperti produk A, atau bisa jadi kita merasa bahwa kalau kita hanya perusahaan kecil kita tidak bisa memenangkan persaingan. Saya beritahu, hal tersebut salah besar. Mengutip quote dari designer terkenal Giorgio Armani : In the end, the customer doesn't know, or care, if you are small or large as an organization… they only focuses on the garment hanging on the rail in the store.”
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembeli hanya terfokus pada apa yang mereka lihat. Jika produk fashion yang dihasilkan bagus, maka mereka akan membeli apapun merknya. Namun, meskipun produk tersebut berasal dari merk terkenal, jika produk tersebut dirasa kurang bagus atau kurang pas bagi selera pembeli, maka ia tidak akan membelinya.
Nah, meskipun produk yang kita hasilkan bisa dikatakan bagus, kita tetap harus memiliki strategi pemasaran yang tepat. Berikut adalah strategi pemasaran fashion business untuk tahun 2011:

Gunakan media online
Tahun 2011 bisa dikatakan hampir semua orang tidak akan terlepas dari dunia online, termasuk fashion. Jadi bisa dikatakan bahwa ketika kita melaksanakan fashion business, kita tidak boleh lupa untuk memasarkannya secara online, karena terkadang ada orang yang lebih suka membeli produk fashion melalui pemesanan online. Hal yang harus diperhatikan di dalam pemesanan online adalah jangan sampai barang yang tiba di tangan pembeli berbeda dengan apa yang telah kita foto untuk dipasarkan di online. Hal tersebut bisa membuat pembeli tidak mau lagi untuk membeli produk fashion yang kita hasilkan. Pemasaran online bisa berasal dari periklanan di media yang banyak membahas mengenai fashion dan juga memiliki web atau blog pribadi untuk memasarkan produk fashion yang kita hasilkan.

Kualitas produk dan pelayanan harus yang terbaik yang dapat diberikan
Kualitas produk dan pelayanan tetap merupakan hal yang harus diperhatikan, karena meskipun merk kita tidak dikenal luas, jika produk fashion kita memiliki kualitas dan pelayanan yang baik, maka hal tersebut bisa membuat pembeli mau untuk membeli produk kita bahkan memasarkannya secara word of mouth kepada rekannya yang lain. Pemasaran secara word of mouth merupakan pemasaran yang paling efektif, karena itu sangat penting untuk memperhatikan kualitas dan pelayanan di dalam bisnis fashion agar pembeli mau untuk melakukan repeat order kepada kita.

Berikan personal touch
Personal touch merupakan hal yang tidak boleh kita lupakan, karena tanpa personal touch, produk kita tidak akan memiliki nilai jual yang special dibandingkan yang lain. Personal touch di dalam fashion business memang penting, karena hal tersebut memberikan ciri khas terhadap produk fashion kita dan hal tersebut membuat kita mampu untuk bersaing di dalam fashion business.

Ikuti tren yang sedang in
Mengikuti tren yang sedang in memang merupakan hal yang harus diperhatikan di dalam fashion business, karena bagaimanapun orang seringkali lebih mencari tren yang sedang in daripada gaya fashion lainnya. Akan tetapi, jika pembeli kita memiliki pesanan khusus, tetap hal tersebut harus diperhatikan, karena bagaimanapun seperti yang dikatakan di poin sebelumnya, pelayanan yang terbaik merupakan salah satu hal penting yang diperhitungkan pembeli.

Maksimalkan periklanan dengan media yang tepat
Periklanan tetap merupakan hal yang tidak boleh dilupakan di dalam pemasaran, tidak terkecuali dalam memasarkan produk fashion. Orang akan selalu mengingat produk fashion kita jika hal tersebut sering ia lihat atau dengar di media. Namun, pemasaran juga harus mencari media dengan sasaran pembaca atau pendengar yang tepat, karena hal itu sangat menentukan keberhasilan di dalam memasarkan produk fashion yang kita hasilkan.

27 Jan 2011

7 Kesalahan Terbesar dalam Marketing


Oleh: Rinella Putri 

Anda merasa sudah melakukan aktivitas pemasaran dengan optimal, namun hasilnya belum ada juga? Mungkin saja Anda mengalami salah satu dari tujuh dosa terbesar dalam pemasaran berikut. Ini adalah daftar kesalahan-kesalahan utama yang seringkali dialami:

1. Mengharapkan Pelanggan Datang Sendiri
Pemikiran salah yang seringkali dimiliki oleh pemasar adalah dengan menyediakan produk dan jasa yang berkualitas, maka pelanggan akan datang dengan sendirinya. Hal ini tidak akan terjadi, kecuali jika brand Anda memang sudah terkenal dan punya pelanggan yang memang sudah lama loyal. Meskipun toko Anda terletak di lokasi yang strategis, tampilan toko menarik, punya produk berkualitas dan layanan yang spektakuler, namun pelanggan tidak akan datang selama Anda tidak melakukan pemasaran.

Produk-produk baru selalu membanjiri pasar, menghadirkan banyak pilihan kepada konsumen. Jika Anda tidak melakukan pemasaran, maka awareness konsumen terhadap produk Anda akan semakin pudar dimakan waktu, kalah dengan awareness terhadap produk pesaing. Ciptakan value proposition unik bagi target pasar Anda.

2. Tidak Punya Target Pasar Spesifik
Kesalahan kedua yakni Anda meyakini bahwa produk dan jasa Anda cocok untuk semua orang. Sehingga, dalam aktivitas pemasaran Anda tidak menyasar ke target pasar tertentu. Sesungguhnya, perusahaan tidak menyasar target pasar tertentu karena takut kehilangan segmen pasar yang potensial. Namun, akibatnya justru pasar malah tidak menangkap value dari produk/layanan tertentu baginya.

Meskipun Anda berusaha untuk menjaring banyak segmen pasar, namun fokuslah pada target pasar utama Anda. Siapkan value proposition unik bagi tiap segmen pasar yang potensial, sehingga mereka juga melihat bahwa produk Anda juga memberikan value.

3. Meniru Pemasaran Pesaing
Kesalahan ketiga yakni pemasar seringkali terjebak untuk mengikuti strategi pemasaran pesaing. Pesaing melancarkan strategi pemasaran, yang kemudian sukses besar, sehingga pemasar tergoda untuk melakukan hal yang sama. Padahal, mungkin pesaing Anda lebih besar, sehingga jika Anda bersaing langsung dengannya, maka peluang Anda menang kecil.

Jangan mengikuti strategi pemasaran sukses dari pesaing begitu saja. Misalnya pesaing mengajak untuk perang harga, biarkan saja. Sebaiknya Anda lebih berfokus pada value, bukan hanya harga. Berikan value terbaik untuk konsumen, dengan menyediakan kebutuhan dan keinginan mereka yang belum terpenuhi. Lakukan diferensiasi, dan berikan alasan-alasan bagi pelanggan untuk memilih produk Anda dibandingkan pesaing.

4. Riset dan Pengujian yang Kurang
Kesalahan keempat adalah riset dan pengujian yang tidak memadai sebelum dilakukannya aktivitas pemasaran. Pemasaran sudah dilaksanakan, namun ternyata hasil tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebelum menjalankan aktivitas pemasaran, sebelumnya harus dilakukan riset serta pengujian. Cari tahu apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pelanggan. Lakukan due diligence terlebih dahulu sebelum Anda mengambil keputusan terkait dengan pemasaran, baik itu harga, penawaran, kemasan, promo, dan lainnya. Dapatkan feedback dari para pelanggan Anda sebelumnya.

5. Menganggap Pemasaran Sebagai Beban
Kesalahan yang juga fatal adalah perusahaan seringkali memandang pemasaran sebagai beban, bukannya investasi. Akibatnya, perusahaan tidak mengalokasikan sumber daya yang cukup ke bidang pemasaran. Pemasaran tidak menjadi bagian penting dari strategi bisnis. Sehingga, akibatnya uang yang masuk ke perusahaan juga kurang.

Sementara itu, pemasaran berbeda, karena justru menarik uang masuk ke perusahaan, tidak hanya sekedar menghabiskan anggaran. Oleh karena itu, sudah seharusnya perusahaan mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk pemasaran, sehingga aktivitas pemasaran dapat dilakukan dengan optimal dan memberi kontribusi pendapatan kepada perusahaan.

6. Tidak Tahu Acquisition Cost Pelanggan
Kesalahan yang juga sering terjadi adalah manajemen tidak mengetahui betul berapa biaya untuk mengakuisisi seorang pelanggan. Sehingga, tidak ada pula statistik yang mengukur customer lifetime value. Padahal, informasi ini penting untuk mengambil keputusan pemasaran. Dengan mengetahui biaya akuisisi pelanggan dan customer lifetime value, maka Anda akan tahu seberapa banyak Anda harus berinvestasi di pemasaran.

Seringkali perusahaan berinvestasi lebih besar dibandingkan dengan customer lifetime value, sehingga mengakibatkan kondisi finansial memburuk. Jadi, sebelum melakukan aktivitas pemasaran, ketahui terlebih dulu customer lifetime value dari pelanggan.

7. Hanya Fokus Pada AkuisisI Pelanggan, Bukan Mempertahankan
Anda harus memahami bahwa bisnis Anda bisa berjalan baik saat ini sebagian berasal dari pelanggan lama, dan sebagian kecil dari pelanggan baru. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemasar hanya berfokus untuk mengakuisisi pelanggan baru, dan melupakan pelanggan lama. Hubungan yang sudah terjalin dengan pelanggan lama tidak dibina dengan baik, sebaliknya malah mengejar pelanggan baru. Pelanggan lama hilang, sementara biaya akuisisi pelanggan baru lebih tinggi, akibatnya tentu kurang baik secara finansial.

26 Jan 2011

Leadership di Masa Transformasi



Oleh: Arisbei

Dalam lingkungan organisasi dewasa ini, tampaknya menuntut  kapasitas yang lebih besar untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian. Sehingga mejadikan peran pemimpin sangat vital. Most corporations today are over managed and under lead. Hal ini tentunya perlu diperhatikan oleh pemimpin organisasi demi kelangsungan hidup dan perkembangan organisasi yang dipimpinnya.
Organisasi untuk bisa tetap exist pada masa perubahan dan penyesuaian seperti ini diperlukan seorang pemimpin yang mempunyai karakteristik transformational leadership.
Ciri-ciri atau karakteristik Transformational Leadership:
1.  Sebagai Perintis Perubahan (change agent). Tujuannya menciptakan organisasi yang adaptif dan inovatif.
2.  Berani dan Terbuka. Pemimpin harus berani mengambil resiko dan menentang status quo dalam organisasi.
3.  Percaya pada Anggota. Walaupun di topang oleh legalitas, pemimpin selalu sensitif terhadap kebutuhan anggota, dan selalu serusaha memberdayakan anggotanya.
4.  Fokus pada Nilai Tertentu. Pemimpin selalu berbicara tentang suatu himpunan nilai-nilai inti dan menunjukkan tata laku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.
5.  Belajar Terus-menerus. Memandang kegagalan sebagai pengalaman untuk dipelajari. Untuk itu pemimpin mempunyai dorongan kuat untuk selalu belajar sendiri. Mereka mampu mengubah gaya dan pendekatannya dalam memimpin organisasinya.
6.  Dapat Mengolaborasikan Visi. Pemimpin tidak hanya mampu menciptakan visi saja, tetapi dapat menterjemahkan visi tersebut sehingga di mengerti oleh anggotanya.

Disamping harus memiliki karaktristik seperti diatas, hal yang lebih penting dari seorang pemimpin harus memiliki atribut sebagai berikut :

1.  Mengerti tujuan suatu system dan mengerti bagaimana organisasi mendukung pencapaian tujuan tersebut.
Menurut Deming, organisasi perlu di pandang sebagai system. Berarti internal system meliputi proses intern, dan external system yang meliputi supplier, customers, dan lingkungan. Kita perlu mengerti pentingnya mengidentifikasi tujuan organisasi dan mengerti kebutuhan organisasi,  untuk menjamin agar manager seluruh fungsi dan anggota organisasi menghayati bagaimana pekerjaan departemennya bekerja untuk mendukung tujuan organisasi.

2.  Bekerja sama demi optimisasi system.
Pemimpin harus mengerti pentingnya koordinasi seluruh bagian proses untuk mencapai optimisasi seluruh proses. Pemimpin jangan mencoba menurunkan performa manager dari suatu bagian sehingga kegiatannya tampak baik, namun merugikan proses secara keseluruhan. Keadaan seperti ini disebut subotimisasi. Pemimpin perlu mengerti pentingnya hubungan customers-suppliers dan dapat menciptakan iklim dimana tim dapat bekerja sama untuk organisasi keseluruhannya. Hal ini yang disebut optimisasi.

3.  Mengerti perbedaan di kalangan anggotanya, berusaha selalu menciptakan suasana kesenangan kerja.
Dengan mengerti perbedaan tersebut, pemimpin akan selalu berusaha menciptakan minat dan tantangan dalam pekerjaan. Tugas utama pemimpin adalah menciptakan kecakapan anggotanya dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan menghilangkan hambatan-hambatan dalam pekerjaan dan menciptakan pekerjaan yang menarik dan menantang (challenging), para anggota akan memperoleh kesenangan dalam pekerjaannya. Inti tugas pemimpin disini adalah membantu anggotanya untuk dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih baik.

4.  Memberikan penyuluhan dan bimbingan bukan menghakimi.
Terdapat empat gaya kepemimpinan, yaitu : pengarahan/otokrasi (directing), bimbingan/pembinaan (coaching), dukungan/demokrasi (supporting), dan pelimpahan wewenang/kendali bebas (delegating). Keempat gaya kepemimpinan tersebut bersifat hirarki berdasarkan kesiapan dari anggota organisasi dalam melaksanakan tugasnya. Anggota organisasi yang baru biasanya belum siap melakukan pekerjaannya, sehingga diperlukan pengarahan terlebih dahulu. Begitu para anggota memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan, pimpinan dapat mengurangi pengarahannya dan beralih ke bimbingan serta memberikan penjelasan tentang peranannya. Seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya kemampuan anggotanya, kemudian pemimpin dapat beralih ke pemberian dukungan dan pelimpahan wewenang. Tujuan utama kepemimpinan tersebut adalah memungkinkan anggotanya dapat melakukan keputusan sendiri dan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar terhadap pekerjaannya. Hal ini merupakan azas pemberdayaan anggota.

5.  Mengembangkan pengetahuan dan kepribadian sebagai sumber kekuatan (power).
Menurut Deming ada tiga sumber kekuatan : Formal, Pengetahuan, dan Kepribadian.
·         Formal. Pemimpin memperoleh kekuatan karena kedudukanya secara formal dalam organisasi. Kekuatan/kekuasaan seperti ini tidak didasarkan pada sifat pribadi pemimpin.
·         Pengetahuan. Kekuatan/kekuasaan dalam hal ini didasarkan pada pengetahuan pemimpin dalam bidang tertentu yang bermanfaat bagi organisasi.
·         Kepribadian. Hal ini sering disebut kharisma, kekuatan/kekuasaan yang berdasarkan sifat pribadi atau karakteristik dari pemimpin.
Deming berpendapat bahwa pemimpin yang berhasil tidak hanya bertumpu pada kekuatan formal saja untuk mempengaruhi anggotanya. Pemimpin yang berhasil  mengolah pengetahuannya melalui pembelajaran yang kontinu serta menyempurnakan hubungan antar manusia dan mempraktekkan metoda untuk bekerja sama dengan orang lain. Tetapi pemimpin yang mempunyai kekuatan/kekuasaan formal memiliki peranan moral yang penting untuk menyempurnakan organisasinya.